IPW: Gampang Membakar Kantor Polisi, Ada Apa Dengan Masyarakat Kita

Kantor Polsek Tabir di Rantau Panjang Kabupaten Merangin Provinsi Jambi yang dibakar massa pada Sabtu (27/8/2016) sekitar pkl 21.00 WIB. (foto: istimewa)
Kantor Polsek Tabir di Rantau Panjang Kabupaten Merangin Provinsi Jambi yang dibakar massa pada Sabtu (27/8/2016) sekitar pkl 21.00 WIB. (foto: istimewa)

JAKARTA – Pembakaran kantor polisi oleh massa kembali terjadi. Kali ini yang menjadi korban adalah Kantor Polsek Tabir di Kelurahan Pasar Rantau Panjang, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi. Kejadian pembakaran pada Sabtu (27/8/2016) sekitar pkl 21.00 WIB oleh sekumpulan massa. Menanggapi kejadian tersebut, Ketua Presidium IPW (Indonesia Police Watch), Neta S. Pane menyatakan bahwa intelijen Polri dan BIN (Badan Intelijen Negara) perlu mengusut apa faktor penyebab sehinga kemarahan warga gampang tersulut.

“Hanya persoalan sepele, warga mengamuk, melempari, dan membakar kantor polisi, seperti di Rantaupanjang, Jambi. Apakah ini sebuah gambaran makin memuncaknya kebencian warga terhadap polisi atau ada pihak-pihak tertentu yang memprovokasi untuk merusak citra Polri,” ujar Neta S. Pane dalam keterangan persnya kepada awak media, Minggu (28/8/2016) pagi.

Neta menambahkan bahwa berdasarkan catatan IP selama 8 bulan terakhir di tahun 2016 terdapat 14 kantor polisi dan fasilitas Polri yang dirusak serta dibakar warga. Selain itu ada 11 polisi yang tewas dan 45 lainnya luka akibat amuk massa.

“Polsek Tabir ini menjadi kantor ke-14 yang diamuk massa. Polsek ini diserbu dan dibakar massa akibat polisi menangkap penambang liar kelas kecil dan membiarkan penambang liar kelas kakap tetap beroperasi,” imbuh Neta.

Catatan lebih lanjut IPW, ternyata menemukan fakta menarik. Sejak Tito Karnavian menjadi Kapolri per 14 Juli 2016 telah terjadi tujuh kerusuhan atau bentrokan massa, yakni di Sumbar, Tanjungbalai, Karo, Aceh, Makassar, Meranti, dan Jambi. Menurut Neta, yang menjadi faktor pemicunya sebenarnya hanya persoalan sepele. Seperti peristiwa terakhir di Jambi, polisi menangkap penambang liar dan tiba-tiba muncul rombongan massa yang menyerbu Polsek.”Mereka melempari dan langsung membakar polsek. Begitu juga di Meranti, rombongan massa langsung melempari dan merusak polres,” paparnya.

Karenanya, pihak IPW mendesak intelijen Polri dan BIN untuk segera melakukan pengusutan serius. Tujuannya jelas yakni apakah aksi warga itu sebuah spontanitas atau ada pihak tertentu yang memprovokasi untuk menghancurkan citra Polri.

“Jadi pertanyaan memang, kenapa warga di daerah kecil, seperti Rantaupanjang, berani menyerang, merusak, dan membakar kantor polisi, hanya karena persoalan sepele. Jadi wajib diusut tuntas agar penyebabnya segera ditemukan dan bisa dilakukan langkah antisipatif ke depannya,” pungkas Neta.

(bm/bti)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *