Hingga Malam ini, Ribuan Bidan Desa Masih Bertahan

Perwakilan Forum Bidan Desa (Forbides) PTT berbincang dengan pihak aparat keamanan terkait bertahannya aksi damai Forbides hingga Kamis (25/8/2016) malam menuntut kejelasan nasib mereka. (foto: Boerhans Putera Milan)
Perwakilan Forum Bidan Desa (Forbides) PTT berbincang dengan pihak aparat keamanan terkait bertahannya aksi damai Forbides hingga Kamis (25/8/2016) malam menuntut kejelasan nasib mereka di depan Istana Negara, Jakarta. (foto: Boerhans Putera Milan)

JAKARTA – Kamis (25/8/2016) ribuan massa yang mengatasnamakan Forum Bidan Desa (Forbides) PTT mengadakan aksi damai menuntut kejelasan nasib mereka. Ketua Umum Forbides PTT pusat, Lilik Dian Ekasari menjelaskan bahwa mereka meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) agar segera turun tangan untuk menyelesaikan permasalahan yang kerap mendera nasib para bidan desa di daerah.

“Kami menanti sikap resmi Presiden Jokowi terkait nasib kami. Beberapa waktu lalu kami telah serahkan surat terbuka tetapi sampai saat ini belum ada perkembangan. Saat ini kami sampaikan surat terbuka kedua kami,” ujar Lilik saat orasi di depan ribuan rekan sejawatnya, Kamis (25/8/2016).

Ribuan Bidan Desa terus bertahan hingga Kamis (25/8/2016) malam menuntut kejelasan nasib mereka kepada Presiden Jokowi karena menganggap nasib itu hanya bisa dijelaskan jika Presiden segera mengambil langkah yang tepat. (Foto: Boerhans Putera Milan)
Ribuan Bidan Desa terus bertahan hingga Kamis (25/8/2016) malam menuntut kejelasan nasib mereka kepada Presiden Jokowi karena menganggap nasib itu hanya bisa dijelaskan jika Presiden segera mengambil langkah yang tepat. (Foto: Boerhans Putera Milan)

 

Hingga malam ini, ribuan bidan desa ini terus bertahan dan terus meneriakkan tuntutan mereka. Keinginan bertemu Presiden terus dipekikkan.

“Kami sudah kenyang menjadi korban tipuan oknum-oknum Dinkes terutama saat masa perpanjangan kontrak tiba dan momentum perekrutan CPNS seperti pada Juli lalu,” tegas Lilik mewakili nasib ribuan rekan-rekannya.

Semula aksi ini akan dilaksanakan di depan Istana Merdeka tetapi dilarang aparat keamanan. Aksi akhirnya berpindah di depan Gedung Mahkamah Konstitusi dan RRI. Tetapi malam harinya bergerak ke arah Istana Merdeka dan menuntut bertemu dengan Presiden untuk menyerahkan surat terbuka keduanya dan memastikan bahwa ada kejelasan akan nasib mereka.

(bm/bti)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *