Dampingi dan Bela Dokter Tersangka Kasus Vaksin Palsu, IDI Dikecam

Mantan Ketua dan Dewan Pakar Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) dr. Ali Mahsun, M.Biomed.
Mantan Ketua dan Dewan Pakar Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) dr. Ali Mahsun, M.Biomed.

JAKARTA – Tindakan Pengurus Besae Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) yang memberikan pendampingan terhadap dokter yang menjadi tersangka dalam kasus vaksin palsu mendapatkan kecaman dari dr. Ali Mahsun, M.Biomed, mantan Ketua dan Dewan Pakar PB IDI.

“Sungguh naif dan konyol tindakan IDI memberikan pendampingan kepada dokter tersangka kasus vaksin palsu. Ini pelecehan dan dosa terbesar IDI yang mencederai seluruh rakyat dan bangsa Indonesia. Kasus vaksin palsu yang berlangsung selama 13 tahun merupakan kejahatan kemanusiaan terbesar di Indonesia terkait dengan keberlangsungan generasi penerus bangsa yang menentukan perjalanan Indonesia ke depan. Kasus vaksin palsu juga tak ada kaitan secara langsung antara tersangka dan profesinya sebagai dokter, melainkan murni sebuah kejahatan kemanusiaan yang sangat kejam. Aneh, unik dan menggemaskan tindakan IDI tersebut,” ujar Ali Mahsun, Jumat (22/7/2016) seusai mendengarkan sikap IDI yang disampaikan Ketua PB IDI dr. Mahesa Paranadipa, MH di Radio Elshinta edisiĀ Jumat (22/7/2016) pagi tadi.

Menurut Ali Mahsun, PB IDI seharusnya segera melakukan pemecatan keanggotaan terhadap 3 dokter yang ditetapkan tersangka oleh Bareskrim Mabes Polri dalam kasus vaksin palsu.

“Mestinya segera pecat dan bukan malah melindungi pelaku kejahatan kemanusiaan. Sebagai dokter dan anggota masyarakat, saya mengecam keras sikap dan tindakan IDI tersebut dan mendesak segera pecat 3 dokter tersangka kasus vaksin palsu anggota IDI demi harkat dan martabat profesi dokter dan masa depan generasi penerus bangsa,” tegas Ali Mahsun yang juga Ketua Umum DPP APKLI (Asosiasi PKL Indonesia) itu.

Ali Mahsun lebih jauh juga mendesak IDI untuk berbagai isu dan kasus yang merundung profesi dokter akhir-akhir ini. Mulai isu dan kasus suap kepada dokter dari perusahaan farmasi tertentu hingga vaksin palsu. Menurut dokter alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya dan Universitas I donesia itu, argumentasi bahwa Pemerintah belum memberikan jaminan kesejahteraan kepada dokter atau penghargaan terhadap profesi dokter secara memadai sehingga kehidupan dokter masih banyak yang belum layak tidak bisa dijadikan argumentasi sebagai penyebab terjadinya tindakan-tindakan oknum dokter yang merusak harkat dan martabat kemuliaan profesi dokter.

“Kasus vaksin palsu dan berbagai isu lainnya yang sedang mendera profesi dokter membuat sentimen ketidakpercayaan kepada dokter Indonesia meningkat. Ini harus dihentikan, jangan sampai atau tidak boleh terjadi posisi dokter Indonesia tergantikan dokter asing ke depannya misalnya. Bahkan IDI juga harus berupaya keras kembalikan kedaulatan kesehatan Indonesia,” pungkas dokter ahli kekebalan tubuh tersebut.

(bm/bti)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *